Pegunungan Meratus berupa daerah yang berbukit-bukit dengan berbagai formasi ekosistem, sebagian besar kawasannya masih ditutupi oleh hutan, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi yang didominasi oleh formasi hutan dipterocarpaceae dan hutan hujan pegunungan. Secara administratif, kawasan ini mencakup 10 dari 13 Kabupaten di Propinsi Kalimantan Selatan, yaitu: Kabupaten Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kota Baru, sebagian yang lain termasuk wilayah Propinsi Kalimantan Timur. Semua wilayah adminsitratif tersebut sangat bergantung kepada kondisi kesehatan kawasan pegunungan Meratus, diantaranya sebagai daerah tangkapan air yang vital untuk pertanian, industri, sumber energi, sumber air minum dan kebutuhan domestik lainnya.Pegunungan Meratus juga menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang sangat menarik. baik Flora maupun Fauna, Salah satu potensi keanekaragaman hayati yang ada di kawasan Pegunungan Meratus yang pernah terdata adalah Avifauna/burung. Sebagai salah satu komponen ekosistem, burung memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Di alam burung dapat berfungsi sebagai pemangsa, seperti jenis-jenis elang sebagai predator, penyerbuk, penyebar biji, dan bahkan sebagai pemberantas hama pertanian (MacKinnon, 1995). Disamping itu, burung juga berfungsi sebagai indikator perubahan lingkungan (Furness & Greenwood, 1993), dimana dampak perubahan lingkungan berpengaruh terhadap perubahan tingkah laku diluar kebiasaan, perubahan populasi, perubahan komposisi jenis atau bahkan hilangnya suatu jenis (P.J. Jarvis dalam Furness & Greenwood, 1993). Selain itu, burung dapat digunakan sebagai bio-monitor (lihat Brisbin; Furness; Jarvis; dan Ormerod & Tyler dalam Furness & Greenwood, 1993) perubahan lingkungan, polusi (pestisida, logam berat, pencemaran udara, kontaminasi radio aktif, dll.) dan perubahan kualitas air. Sehingga keberadaan jenis-jenis burung di suatu kawasan adalah penting didokumentasikan untuk tujuan-tujuan tertentu, termasuk sebagai bahan masukan penting untuk pengelolaan kawasan.
Dibandingkan dengan kawasan lain di Kalimantan, data burung di kawasan pegunungan Meratus terbilang miskin dan berada di bawah ancaman sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan. Hal tersebut diperkuat oleh kenyataan bahwa banyak jenis-jenis burung yang diperdagangkan berasal dari kawasan pegunungan Meratus (Abdurrahim, kom.pri.), konversi lahan, fragmentasi dan alterasi habitat akibat dari kebijakan yang tidak pro lingkungan dan lemahnya penegakan hukum. Pemberian ijin konsesi perkebunan skala besar, penambangan dan HPH semakin meningkat. Bahkan, lokasi konsesi tidak jarang berada dalam kawasan lindung dan kawasan (hak ulayat) masyarakat adat Dayak Meratus.
Bertolak dari permasalahan di atas, maka penelitian penting dilakukan untuk membangun data dasar yang sangat berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan sebagai masukan penting untuk proses-proses pengambilan keputusan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan yang berkeadilan ekologis dan sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar